Pembebasan Irian Barat
Salah
satu keputusan dalam konferensi tersebut antara lain bahwa masalah Irian Barat
akan di bicarakan antara Indonesia dengan Belanda, satu tahun setelah pengakuan
kedaulatan. Dari keputusan ini terjadi perbedaan penafsiran antara Indonesia
dengan Belanda. Pihak Indonesia menafsirkan bahwa Belanda akan menyerahkan Irian
Barat kepada Indonesia. Tetapi pihak Belanda menafsirkan hanya merundingkan
saja masalah Irian Barat. Dalam berjalannya waktu Belanda tidak mau
membicarakan masalah Irian Barat dengan Indonesia. Itulah latar belakang
Indonesia menjadi marah dengan Belanda, dan akan terjadi:
Adegan
I : Pada tanggal 19 Desember
1941 ketika presiden sadar bahwa Belanda hanya ulur–ulur waktu. Presiden Soekarno
memerintahkan kepada rakyatnya untuk berkumpul di alun-alun Yogyakarta, yang
biasa disebut rapat raksasa.
Ir. Soekarno : “Belanda telah curang kepada kita,
mereka tidak menepati janji, pada Konferensi Meja Bundar, Belanda akan
membicarakan masalah Irian Barat satu tahun kemudian, tetapi sudah lewat
beberapa tahun tidak ada kabar” (dengan nada setengah marah).
Drs. Moh. Hatta : “Ya, bagaimana ini, bung? Belanda sudah
semena-mena terhadap negara kita, mari kita berikan gertakan pada Belanda, dan
kita rebut kembali Irian Barat tanah air kita.”
Ir. Soekarno : “Memang seharusnya begitu, tetapi
bagaimana gertakan yang akan kita lakukan ini kita tidak akan untuk menyerang
Belanda.”
Drs. Moh. Hatta : “Bagaimana kalau kita melibatkan rakyat dalam
merebut Irian Barat?”
Ir. Soekarno : “Boleh saja, tapi apa mau rakyat kita
untuk membantu merebut Irian Barat?”
Drs. Moh. Hatta : “Jelas pasti mau, tapi kita harus
mengorbankan semangat kemerdekaan.”
Drs. Moh. Hatta : “Untuk mengorbankan semangat, bagaimana kalau
kita buat rumusan atau perintah yang bisa membakar semangat kemerdekaan.”
Drs. Moh. Hatta : “Bagaimana jika kita membuat Tri Komando
Rakyat(Trikora).”
Ir. Soekarno : “Boleh juga, tetapi apa itu Trikora?”
Drs. Moh. Hatta : “Tri artinya tiga berarti kita harus membuat
3 Komando Rakyat, apa yang dapt kita sampaikan pada Trikora ini?”
Ir. Soekarno : “Saya telah memikirkan bahwa:
1.
Gagalkan
pembentukan “Negara Papua” buatan Belanda Kolonial.
2.
Kibarkan
Sang “Merah Putih” di Irian Barat tanah air kita.
3.
Bersiaplah
untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan Tanah Air
Indonesia.”
Drs. Moh. Hatta : “Itu rumusan yang bagus untuk membakar
semangat rakyat, bung.”
Ir. Soekarno : “Sekarang mari kita kumpulkan rakyat
di alun-alun Yogyakarta, untuk memberikan Trikora!”
Drs. Moh. Hatta : “Baiklah, bung!”
Narasi : Ketika sudah terbuat rumusan
Trikora, akhirnya Presiden Ir. Soekarno member perintah untuk mengumpulkan
rakyat di alun-alun untuk menyampaikan Trikora, dalam rapat raksasa terbuka.
Ir. Soekarno : “Selamat pagi, rakyat Indonesia!”
Rakyat : “Selamat pagi, pak presiden.”
Ir. Soekarno : “Saya berdiri pada pagi hari ini untuk
merebut kembali Irian Barat dari tangan Belanda.”
Rakyat : “…”(hening)
Ir. Soekarno : “Saya akan mengumumkan Tri Komando
Rakyat atau disingkat Trikora, adapun isi dari Trikora adalah:
1.
Gagalkan
pembentukan “Negara Papua” buatan Belanda Kolonial.
2.
Kibarkan
Sang “Merah Putih” di Irian Barat tanah air kita.
3.
Bersiaplah
untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan Tanah Air
Indonesia”
Rakyat : “SIAP LAKSANAKAN! MERDEKA!”
Narasi : Akhirnya rakyat Indonesia
akan mengikuti peperangan di Irian Barat!
Adengan II : Pembentukan Komando Mandala Pembebasan Irian Barat.
Narasi : Dengan dikeluarnya Trikora, maka
mulainya konferensi total terhadap Belanda dan pada bulan Januari 1962,
pemerintahan membentuk komando mandala. Pembebasan Irian Barat yang
berkedudukan di Makasar, adapun tugas pokok dari komando mandala. Pembebasan
Irian Barat ini adalah pengembangan wilayah Irian Barat kedalam kekuasaan
negara Republik Indonesia sebagai panglima Panglima Komando Mandala adalah
Mayor Jendral Soeharto.
Ir. Soekarno : “Dengan alasan untuk mengambil kembali
Irian Barat, saya akan membentuk ‘Komando Mandala Pembebasan Irian Barat’”
M. J. Soeharto : “Baik, dengan ‘Komando Mandala Pembebasan
Irian Barat’ kita akan mampu merebut kembali Irian Barat”
Ir. Soekarno : “Baiklah Soekarno, saya akan mengangkatmu
sebagai Panglima Komando, kaulah yang akan memimpin jalannya perebutan Irian
Barat. Seluruhnya saya serahkan kepadamu, Mayor Jendral Soeharto”
M. J. Soeharto : “Hanya karena perintahmu saya akan
menjalankan tugas, saya siap untuk memimpin jalannya perang”
Ir. Soekarno : “Saya sangat berterima kasih kepada kau,
Mayor Jendral Soeharto”
M. J. Soeharto : “Sama-sama, pak Presiden”
Narasi : Akhirnya Mayot Jendral Soeharto
pergi ke Makasar untuk membuat Komando Mandala Pembebasan Irian Barat.
Adegan III : Peristiwa Laut Aru
Pada tanggal
15 Januari 1962 ketika waktu menunjukkan pada pukul 21.15, pertempuran ini
terjadi di laut Aru, Maluku. Pasukan Komando Mandala melakukan operasi
penyusupan ke Irian Barat
Komodor Yos Sudarso : “Hari ini kita lakukan operasi ke
Irian Barat!”
Kapten Wiratno : “Baiklah, Laksamana, ayo
kita serang pasukan Belanda”
Narasi : Dalam
perjalanannya, mereka melihat dua pesawat terbang pada ketinggian 3000 kaki.
Komodor Yos Sudarso : “Pesawat milik siapa yang melintas
kapal siapa?”
Kapten Wiratno : “Mungkin itu pesawat milik
pasukan Belanda yang berjenis Neptune
dan Firefly yang mengetahui
keberadaan kita”
Komodor Yos Sudarso : “Kalau begitu, beritakan kepada
semua pasukan untuk bersiap melawan Belanda!”
Narasi : Waktu itu
juga terlihat dua kapal perusak yang melepaskan tembakan kea rah kapal Motor
Torpedo Boat (MTB).
Komodor Yos Sudarso : “TIDAK! Kapal kita tertembak, kapal
kita pasti akan tenggelam!”
Prajurit TNI-AL : “Sebelum kita tenggelam,
apa salahnya kita melakukan pembalasan walaupun hanya sedikit!?”
Komodor Yos Sudarso : “Kalau begitu, lakukan sekarang!
MARI KITA “KOBARKAN SEMANGAT PERTEMPURAN”!!!”
Prajurit TNI-AL : “MERDEKA!!!”
Narasi : Setetika itu kapal Motor Torpedo Boat (MTB)
milik Yos Sudarso tenggelam. Disana turut pula Kepala Staf Angkatan Laut,
Laksamana Pertama (Komodor) Yos Sudarso, bersama Komandan KRI Macan Tutul,
Kapten (Laut) Wirarto, dan beberapa prajurit TNI-AL gugur sebagai pahlawan.
Sebelum gugur Komandan Yos Sudarso sempat
mengucapkan pesan terakhir “Kobarkan Semangat Pertempuran”.
Adegan IV : Persetujuan New York
Narasi : Sebagai tindak
lanjut rencana Bunker pada tanggal 15 Agustus 1962 di New York di selenggarakan
perjanjian antara Indonesia dan Belanda.
Dewan PBB : “Untuk mencegah petempuran
antara Indonesia dan Belanda, mari kita membuat perjanjian”
Drs. Moh. Hatta : “Perjanjian apa yang dapat
menyelesaikan masalah kita?”
Pemerintahan Belanda : “Ya, dengan perjanjian apa?”
Dewan PBB : “Dengan Perjanjian New
York, adapun isinya seperti berikut
1. Pemerintahan Belanda akan menyerahkan
Irian Barat kepada Penguasa Sementara PBB atau United Nations Temporary Executive Authority pada tanggal 1 Oktober
1962.
2. Pada tanggal 1 Oktober 1962 bendera
PBB akan berkibar di Irian Barat berdampingan dengan bendara Belanda, yang
selanjutnya akan diturunkan pada tanggal 31 Desember untuk digantikan oleh
bendera Indonesia mendampingi bendera PBB.
3. Pemerintahan UNTEA berakhir pada
tanggal 1 Mei 1963, pemerintahan selanjutnya diserahkan kepada pihak Indonesia.
4. Pemulangan orang-orang sipil dan
militer Belanda harus sudah selesai pad tanggal 1 Mei 1963.
5. Pada tahun 1969 rakyat Irian Barat
diberi kesempatan untuk menyatakan pendapatnya tetap dalam wilayah RI atau
memisahkan diri dari RI melalui Penentuan Pendapat Rakyat atau Perpera.
Apakah kedua pihak setuju?”
Drs. Moh. Hatta : “Kami setuju”
Dewan PBB : “Pihak Belanda apakah
kalian setuju?”
Pemerintahan Belanda : “Kami setuju juga”
Dewan PBB : “Selanjutnya untuk menjamin
keamanan di Irian, maka akan dibentuk suatu pasukan keamanan PBB yang dinamakan
United Nations Security Forces atau
UNSF di bawah pimpinan Brigadir Jendral Said Uddin Khan dari Pakistan. Dan
siapa yang menjadi Gubernur di Irian Barat?”
Drs. Moh. Hatta : “Sebagai Gubernur Irian Barat
pertama maka saya akan mengangkat E. J. Bonay, seorang putera asli Irian Barat”
Dewan PBB : “Boleh juga, tidak masalah
bila dia orang asli dari Irian Barat”
Narasi : Di samping
nama-nama Soeharto, Sudarso dan lain-lain yang berjasa dalam pembebasan Irian
Barat juga tercatat dalam sejarah nama-nama seperti Kolonel Sudomo, Kolonel
Udara Leo Watimena, dan Mayor L. B. Moerdarni. Pantas pula untuk dikenang
adalah, sukarelawati yang gigih berjuang dalam pembebasan Irian Barat yakni
Herlina. Ia mendapatkan hadiah Pending Emas karena ikut dalam pembebasan Irian
Barat secara heroik. Pengalamannya dibukukan dalam karya tulis yang berjudul
Pending Emas.
Narasi : Dengan ditandatangi
Perjanjian New York maka pada tanggal 1 Mei 1963 Irian Barat diserahkan pada
Indonesia. Hubungan Diplomatik dengan Belanda pun segara dibuka kembali. Dengan
kembalinya Irian Barat kepada Indonesia maka Komando Mandala dibubarkan dan
sebagai operasi terakhir adalah Operasi Wisnumurti yang bertugas menjaga
keamanan dalam penyerahan kekuasaan pemerintahan di Irian Barat dari UNTEA
kepada Indonesia.
Adegan V : Penentuan Pendapat Rakyat(Perpera)
Irian Barat
Narasi : Sebagai Bagian dari
Persetujuan New York, bahwa Indonesia berkewajiban untuk mengadakan “Penentuan
Pendapat Rakyat” di Irian Barat dan hasilnya adalah bahwa rakyat Irian Barat
tetap menghendaki sebagai sebagai bagian dari wilayah Republik Indonesia.
Akhirnya sidang umum PBB tanggal 19 November 1969 menyetujui hasil – hasil Perpera
tersebut sehingga Irian Barat tetap merupakan bagian dari wilayah Republik
Indonesia.
E. J. Bonay : “Panglima, tolong
kumpulkan seluruh rakyat Irian Barat untuk berkumpul di alun-alun kota untuk
mengadakan Perpera.”
Panglima TNI : “Siap, Pak!”
“Seluruh
warga kota Irian Barat harap berkumpul di alun-alun kota!”
E. J. Bonay : “Seluruh warga kota
diharapkan melakukan pemungutan suara untuk ingin tetap bersama Republik
Indonesia atau memisahkan diri dari Republik Indonesia!”
Setelah pemungutan
suara…
Anggota PBB : “Baiklah, saya dari salah
satu anggota PBB akan mengumumkan hasil pemungutan suara. Hasil pemungutan
suaranya, banyak rakyat Irian Barat lebih memilih untuk tetap bersatu dengan
Republik Indonesia”
Rakyat Irian Barat : “MERDEKAA!!”