Kamis, 17 Maret 2016

Drama Perebutan Irian Barat Kelas 9



Pembebasan Irian Barat

     Salah satu keputusan dalam konferensi tersebut antara lain bahwa masalah Irian Barat akan di bicarakan antara Indonesia dengan Belanda, satu tahun setelah pengakuan kedaulatan. Dari keputusan ini terjadi perbedaan penafsiran antara Indonesia dengan Belanda. Pihak Indonesia menafsirkan bahwa Belanda akan menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia. Tetapi pihak Belanda menafsirkan hanya merundingkan saja masalah Irian Barat. Dalam berjalannya waktu Belanda tidak mau membicarakan masalah Irian Barat dengan Indonesia. Itulah latar belakang Indonesia menjadi marah dengan Belanda, dan akan terjadi:
Adegan I             : Pada tanggal 19 Desember 1941 ketika presiden sadar bahwa Belanda hanya ulur–ulur waktu. Presiden Soekarno memerintahkan kepada rakyatnya untuk berkumpul di alun-alun Yogyakarta, yang biasa disebut rapat raksasa.
Ir. Soekarno        : “Belanda telah curang kepada kita, mereka tidak menepati janji, pada Konferensi Meja Bundar, Belanda akan membicarakan masalah Irian Barat satu tahun kemudian, tetapi sudah lewat beberapa tahun tidak ada kabar” (dengan nada setengah marah).
Drs. Moh. Hatta : “Ya, bagaimana ini, bung? Belanda sudah semena-mena terhadap negara kita, mari kita berikan gertakan pada Belanda, dan kita rebut kembali Irian Barat tanah air kita.”
Ir. Soekarno        : “Memang seharusnya begitu, tetapi bagaimana gertakan yang akan kita lakukan ini kita tidak akan untuk menyerang Belanda.”
Drs. Moh. Hatta : “Bagaimana kalau kita melibatkan rakyat dalam merebut Irian Barat?”
Ir. Soekarno        : “Boleh saja, tapi apa mau rakyat kita untuk membantu merebut Irian Barat?”
Drs. Moh. Hatta : “Jelas pasti mau, tapi kita harus mengorbankan semangat kemerdekaan.”
Drs. Moh. Hatta : “Untuk mengorbankan semangat, bagaimana kalau kita buat rumusan atau perintah yang bisa membakar semangat kemerdekaan.”
Drs. Moh. Hatta : “Bagaimana jika kita membuat Tri Komando Rakyat(Trikora).”
Ir. Soekarno        : “Boleh juga, tetapi apa itu Trikora?”
Drs. Moh. Hatta : “Tri artinya tiga berarti kita harus membuat 3 Komando Rakyat, apa yang dapt kita sampaikan pada Trikora ini?”
Ir. Soekarno        : “Saya telah memikirkan bahwa:
1.                                                Gagalkan pembentukan “Negara Papua” buatan Belanda Kolonial.
2.                                                Kibarkan Sang “Merah Putih” di Irian Barat tanah air kita.
3.                                                Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan Tanah Air Indonesia.”
Drs. Moh. Hatta : “Itu rumusan yang bagus untuk membakar semangat rakyat, bung.”
Ir. Soekarno        : “Sekarang mari kita kumpulkan rakyat di alun-alun Yogyakarta, untuk memberikan Trikora!”
Drs. Moh. Hatta : “Baiklah, bung!”
Narasi                 : Ketika sudah terbuat rumusan Trikora, akhirnya Presiden Ir. Soekarno member perintah untuk mengumpulkan rakyat di alun-alun untuk menyampaikan Trikora, dalam rapat raksasa terbuka.
Ir. Soekarno        : “Selamat pagi, rakyat Indonesia!”
Rakyat                : “Selamat pagi, pak presiden.”
Ir. Soekarno        : “Saya berdiri pada pagi hari ini untuk merebut kembali Irian Barat dari tangan Belanda.”
Rakyat                : “…”(hening)
Ir. Soekarno        : “Saya akan mengumumkan Tri Komando Rakyat atau disingkat Trikora, adapun isi dari Trikora adalah:
1.            Gagalkan pembentukan “Negara Papua” buatan Belanda Kolonial.
2.            Kibarkan Sang “Merah Putih” di Irian Barat tanah air kita.
3.            Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan Tanah Air Indonesia”
Rakyat                : “SIAP LAKSANAKAN! MERDEKA!”
Narasi                 : Akhirnya rakyat Indonesia akan mengikuti peperangan di Irian Barat!


Adengan II       : Pembentukan Komando Mandala Pembebasan Irian Barat.

Narasi              : Dengan dikeluarnya Trikora, maka mulainya konferensi total terhadap Belanda dan pada bulan Januari 1962, pemerintahan membentuk komando mandala. Pembebasan Irian Barat yang berkedudukan di Makasar, adapun tugas pokok dari komando mandala. Pembebasan Irian Barat ini adalah pengembangan wilayah Irian Barat kedalam kekuasaan negara Republik Indonesia sebagai panglima Panglima Komando Mandala adalah Mayor Jendral Soeharto.
Ir. Soekarno     : “Dengan alasan untuk mengambil kembali Irian Barat, saya akan membentuk ‘Komando Mandala Pembebasan Irian Barat’”
M. J. Soeharto : “Baik, dengan ‘Komando Mandala Pembebasan Irian Barat’ kita akan mampu merebut kembali Irian Barat”
Ir. Soekarno     : “Baiklah Soekarno, saya akan mengangkatmu sebagai Panglima Komando, kaulah yang akan memimpin jalannya perebutan Irian Barat. Seluruhnya saya serahkan kepadamu, Mayor Jendral Soeharto”
M. J. Soeharto : “Hanya karena perintahmu saya akan menjalankan tugas, saya siap untuk memimpin jalannya perang”
Ir. Soekarno     : “Saya sangat berterima kasih kepada kau, Mayor Jendral Soeharto”
M. J. Soeharto : “Sama-sama, pak Presiden”
Narasi              : Akhirnya Mayot Jendral Soeharto pergi ke Makasar untuk membuat Komando Mandala Pembebasan Irian Barat.



Adegan III                             : Peristiwa Laut Aru

            Pada tanggal 15 Januari 1962 ketika waktu menunjukkan pada pukul 21.15, pertempuran ini terjadi di laut Aru, Maluku. Pasukan Komando Mandala melakukan operasi penyusupan ke Irian Barat
Komodor Yos Sudarso          : “Hari ini kita lakukan operasi ke Irian Barat!”
Kapten Wiratno                    : “Baiklah, Laksamana, ayo kita serang pasukan Belanda”
Narasi                                   : Dalam perjalanannya, mereka melihat dua pesawat terbang pada ketinggian 3000 kaki.
Komodor Yos Sudarso          : “Pesawat milik siapa yang melintas kapal siapa?”
Kapten Wiratno                    : “Mungkin itu pesawat milik pasukan Belanda yang berjenis Neptune dan Firefly yang mengetahui keberadaan kita”
Komodor Yos Sudarso          : “Kalau begitu, beritakan kepada semua pasukan untuk bersiap melawan Belanda!”
Narasi                                   : Waktu itu juga terlihat dua kapal perusak yang melepaskan tembakan kea rah kapal Motor Torpedo Boat (MTB).
Komodor Yos Sudarso          : “TIDAK! Kapal kita tertembak, kapal kita pasti akan tenggelam!”
Prajurit TNI-AL                     : “Sebelum kita tenggelam, apa salahnya kita melakukan pembalasan walaupun hanya sedikit!?”
Komodor Yos Sudarso          : “Kalau begitu, lakukan sekarang! MARI KITA “KOBARKAN SEMANGAT PERTEMPURAN”!!!”
Prajurit TNI-AL                     : “MERDEKA!!!”
Narasi   : Setetika itu kapal Motor Torpedo Boat (MTB) milik Yos Sudarso tenggelam. Disana turut pula Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana Pertama (Komodor) Yos Sudarso, bersama Komandan KRI Macan Tutul, Kapten (Laut) Wirarto, dan beberapa prajurit TNI-AL gugur sebagai pahlawan. Sebelum gugur  Komandan Yos Sudarso sempat mengucapkan pesan terakhir “Kobarkan Semangat Pertempuran”.

Adegan IV                     : Persetujuan New York

Narasi                           : Sebagai tindak lanjut rencana Bunker pada tanggal 15 Agustus 1962 di New York di selenggarakan perjanjian antara Indonesia dan Belanda.
Dewan PBB                   : “Untuk mencegah petempuran antara Indonesia dan Belanda, mari kita membuat perjanjian”
Drs. Moh. Hatta            : “Perjanjian apa yang dapat menyelesaikan masalah kita?”
Pemerintahan Belanda           : “Ya, dengan perjanjian apa?”
Dewan PBB                   : “Dengan Perjanjian New York, adapun isinya seperti berikut
1.      Pemerintahan Belanda akan menyerahkan Irian Barat kepada Penguasa Sementara PBB atau United Nations Temporary Executive Authority pada tanggal 1 Oktober 1962.
2.      Pada tanggal 1 Oktober 1962 bendera PBB akan berkibar di Irian Barat berdampingan dengan bendara Belanda, yang selanjutnya akan diturunkan pada tanggal 31 Desember untuk digantikan oleh bendera Indonesia mendampingi bendera PBB.
3.      Pemerintahan UNTEA berakhir pada tanggal 1 Mei 1963, pemerintahan selanjutnya diserahkan kepada pihak Indonesia.
4.      Pemulangan orang-orang sipil dan militer Belanda harus sudah selesai pad tanggal 1 Mei 1963.
5.      Pada tahun 1969 rakyat Irian Barat diberi kesempatan untuk menyatakan pendapatnya tetap dalam wilayah RI atau memisahkan diri dari RI melalui Penentuan Pendapat Rakyat atau Perpera.
Apakah kedua pihak setuju?”
Drs. Moh. Hatta            : “Kami setuju”
Dewan PBB                   : “Pihak Belanda apakah kalian setuju?”
Pemerintahan Belanda           : “Kami setuju juga”
Dewan PBB                   : “Selanjutnya untuk menjamin keamanan di Irian, maka akan dibentuk suatu pasukan keamanan PBB yang dinamakan United Nations Security Forces atau UNSF di bawah pimpinan Brigadir Jendral Said Uddin Khan dari Pakistan. Dan siapa yang menjadi Gubernur di Irian Barat?”
Drs. Moh. Hatta            : “Sebagai Gubernur Irian Barat pertama maka saya akan mengangkat E. J. Bonay, seorang putera asli Irian Barat”
Dewan PBB                   : “Boleh juga, tidak masalah bila dia orang asli dari Irian Barat”
Narasi                           : Di samping nama-nama Soeharto, Sudarso dan lain-lain yang berjasa dalam pembebasan Irian Barat juga tercatat dalam sejarah nama-nama seperti Kolonel Sudomo, Kolonel Udara Leo Watimena, dan Mayor L. B. Moerdarni. Pantas pula untuk dikenang adalah, sukarelawati yang gigih berjuang dalam pembebasan Irian Barat yakni Herlina. Ia mendapatkan hadiah Pending Emas karena ikut dalam pembebasan Irian Barat secara heroik. Pengalamannya dibukukan dalam karya tulis yang berjudul Pending Emas.
Narasi                           : Dengan ditandatangi Perjanjian New York maka pada tanggal 1 Mei 1963 Irian Barat diserahkan pada Indonesia. Hubungan Diplomatik dengan Belanda pun segara dibuka kembali. Dengan kembalinya Irian Barat kepada Indonesia maka Komando Mandala dibubarkan dan sebagai operasi terakhir adalah Operasi Wisnumurti yang bertugas menjaga keamanan dalam penyerahan kekuasaan pemerintahan di Irian Barat dari UNTEA kepada Indonesia.
Adegan V                      : Penentuan Pendapat Rakyat(Perpera) Irian Barat

Narasi                           : Sebagai Bagian dari Persetujuan New York, bahwa Indonesia berkewajiban untuk mengadakan “Penentuan Pendapat Rakyat” di Irian Barat dan hasilnya adalah bahwa rakyat Irian Barat tetap menghendaki sebagai sebagai bagian dari wilayah Republik Indonesia. Akhirnya sidang umum PBB tanggal 19 November 1969 menyetujui hasil – hasil Perpera tersebut sehingga Irian Barat tetap merupakan bagian dari wilayah Republik Indonesia.
E. J. Bonay                    : “Panglima, tolong kumpulkan seluruh rakyat Irian Barat untuk berkumpul di alun-alun kota untuk mengadakan Perpera.”
Panglima TNI                : “Siap, Pak!”
                                      “Seluruh warga kota Irian Barat harap berkumpul di alun-alun kota!”
E. J. Bonay                    : “Seluruh warga kota diharapkan melakukan pemungutan suara untuk ingin tetap bersama Republik Indonesia atau memisahkan diri dari Republik Indonesia!”
Setelah pemungutan suara…
Anggota PBB                 : “Baiklah, saya dari salah satu anggota PBB akan mengumumkan hasil pemungutan suara. Hasil pemungutan suaranya, banyak rakyat Irian Barat lebih memilih untuk tetap bersatu dengan Republik Indonesia”
Rakyat Irian Barat        : “MERDEKAA!!”